Jakarta, Indonesia | Monday, 28-05-2018

NEWS UPDATE

APROFI Tegaskan Film Naura dan Genk Juara Tak Lecehkan Agama

AL | Jumat,24 Nov 2017 - 13:55:48 WIB

Komentar Nina Asterly terkait masalah penistaan terhadap agama Islam di Film Naura dan Genk Juara.foto.ist

Jakarta, CityPost - Film musikal anak "Naura dan Genk Juara" yang mulai tayang di bioskop Indonesia mulai 16 November 2017 dituding melecehkan agama Islam lewat tokoh antagonis oleh seorang ibu bernama Nina Asterly yang menonton film tersebut.

Awalnya, Nina mengeluarkan keluh-kesah soal film "Naura dan Genk Juara" lewat akun Facebooknya.

"Para penjahat digambarkan orang yang berjenggot, brewokan selalu mengucapkan istighfar dan mengucapkan kalimat2 Alloh lainnya...lebih ekstrim lagi saat si penjahat yang di serang anak2 lalu si penjahat lantang mengucapkan kalimat Takbir berkali-kali dan kalimat2 Alloh lainnya....," tulisnya.

Nina mengakui, adegan-adegan tersebut membuat anaknya bertanya-tanya.

"Anak sy yang baru berumur 8 tahun saja dari mulai kemunculan si penjahat itu sampai film selesai terus2an bilang ke saya: "Ma, itu orang itu islam tapi kok jahat tapi kok pencuri, gimana sih ??" lanjutnya.

Menyusul komentar Nina, muncul sebuah petisi yang diinisiasi oleh Windi Ningsih untuk menghentikan film anak yang melecehkan agama dan petisi itu sudah ditandatangani oleh hampir 50 ribu orang.

Menanggapi tudingan itu, Ketua Umum Asosiasi Produser Indonesia (APROFI), Fauzan Zidni, menyampaikan pihaknya sangat menyangkan tuduhan yang disampaikan terhadap sutradara Eugene Panji yang dianggap menistakan agama lewat filmnya. Menurutnya, "Naura dan Genk Juara" adalah film yang bagus untuk anak, mengajari mencinta alam, mencinta ilmu pengetahuan, tentang kerjasama dan persahabatan. 

“Saya cuma berharap pihak yang ramai membuat ini menjadi kontroversi untuk menonton kembali filmnya, lalu menilai dengan pikiran jernih. Jangan apa-apa langsung dituduhkan penistaan agama. Tolonglah bisa lebih bijak dengan memisahkan antar karya seorang filmmaker dengan pilihan politik yang pernah dia pilih," kata Fauzan lewat siaran persnya, Jumat (24/11/17).

Hal senada juga diutarakan oleh Ketua Umum Indonesian Film Director Club (IFDC) Lasja F. Susatyo. Menurutnya film  "Naura dan Genk Juara" patut diapresiasi.

"Naura dan Genk Juara adalah film yang sehat untuk tontonan anak-anak. Sudah lama Indonesia tidak memiliki film musical, dan Eugine sudah membuat karya yang sangat baik. Harus kita apresiasi," tuturnya.

Susatyo menambahkan agar masyrakat terutama kaum ibu jangan mudah terpancing dengan pengunaan dalil penistaan agama dalam film anak karena akan memberikan pengaruh buruk bagi anak.

“Marilah kita tetap menjadi bangsa yang toleran dan tidak menjadi bangsa pemarah. Penggunaan dalil penistaan agama untuk hal yang paling innocent seperti tontonan anak malah menyuburkan bibit kebencian dari rasa curiga sejak usia dini. Ibu yang bijak adalah kunci dari pendidikan toleransi di negara ini," ujarnya.

Sedangakn, Ketua LSF, Ahmad Yani Basuki menilai penonton terlalu jauh berspekulasi jika film "Naura dan Genk Juara"

jika dihubung-hubungkan dengan penista agama, rasanya terlalu jauh berspekulasi. Kita tahu kalo penjahatnya muslim pun ya hanya karena dia baca doa itu. Ketika akhirnya si penjahat terkepung, salah satunya memang membaca istighfar.  Tetapi sekali lagi, bagi LSF, itu tdak serta merta menggambarkan pelecehan dan penistaan terhadap Islam dihubung-hubungkan dengan penista agama.

"Kita tahu juga penjahatnya muslim pun ya hanya karena dia baca doa itu. Ketika akhirnya si penjahat terkepung, salah satunya memang membaca istighfar.  Tetapi bagi LSF, itu tdak serta merta menggambarkan pelecehan dan penistaan terhadap Islam," pungkasnya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar