Jakarta, Indonesia | Monday, 19-11-2018

NEWS UPDATE

Game Online Bisa Jadi Sarana Komunikasi Teroris

AL | Kamis,12 Jul 2018 - 15:42:20 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Jakarta, CityPost - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mendeteksi bahwa game online yang sering digunakan oleh anak-anak dan kaum muda bisa dijadikan sarana komunikasi bagi teroris untuk melakukan serangan.

"Ini yang baru kita deteksi. Memang tidak kita sebarluaskan," kata Jubir BSSN, Anton Setiawan saat ditemui di Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (12/7/18).

BSSN melihat ada potensi serangan terorisme di Prancis yang menggunakan game Play Station 4. Menurut Anton, melihat perkembangan game online sekarang ini akan memiliki potensi teror yang lebih besar lagi.

"Jadi kita berusaha. Kita belum menemukan jalan sebetulnya bagaimana menemukan pemblokiran (blocking) terhadap aplikasi game itu lantaran aplikasi game online digunakan oleh semua anak-anak di seluruh dunia," ujarnya.

Anton mengakui tidak bisa melakukan pemblokiran begitu saja karena akan menimbulkan banyak permasalahan, namun BSSN akan mencoba bekerja sama dengan para periset game online untuk melakukan deteksi dini.

"Bukan saja game online, namun aplikasi-aplikasi di kehidupan kita yang memungkinkan untuk dijadikan komunikasi," imbuhnya.

BSSN sendiri saat ini terus meningkatkan kerja sama secara lebih spesifik dengan negara-negara yang berkomitmen mencegah gerakan aksi teror. Termasuk kerja sama dalam Forum bilateral badan siber Malaysia dan Singapura, tingkat Asia Pasifik, OKI dan kerja sama global lainnya. Anton menambahkan, selain di console PS-4, diduga kuat sarana komunikasi teroris juga masih ada dalam game online lain yang memiliki sarana komunikasi langsung yang digunakan teroris. Diantaranya Clash of the Titans, Clash of Clan, World of Warcraft, dan lain-lain.

:Kita mendapatkan informasi dari mereka. Jadi ini masih sebatas <em>close information</em> dan antisipasi kita. Tapi kalau itu digunakan akan sangat luar biasa efeknya. Kita mendeteksinya sangat sulit," tuturnya.

Anton mengatakan, BSSN bisa saja melakukan tindakan preventif bisa dilakukan, namun dampaknya akan luar biasa karena teroris berada di ranah publik dan tidak spesifik.

"Kalau spesifik tersendiri kita mudah melihat, quarantine>, kemudian melakukan aksi. Tapi, ketika dia berbaur dengan publik akan sangat sulit bagi kita melakukan deteksi," ujarnya.

Menyikapi temuan tersebut, Anton menyarakat agar semua orang mulai berpikir bahwa kemajuan IT harus diperhatikan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk pengambil keputusan (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar