Jakarta, Indonesia | Sunday, 20-01-2019

NEWS UPDATE

LBH Masyarakat Menentang Rencana Eksekusi Mati Jilid Empat

AL | Senin,05 Mar 2018 - 13:56:56 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Jakarta, CityPost - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) masyarakat mendesak Jaksa Agung HM Prasetyo untuk menghentikan segala rencana mengadakan eksekusi mati jilid empat. Direktur LBH Masyarakat Ricky Gunawan menilai, keinginan Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk melaksanakan eksekusi mati jilid 4 kontra-produktif dengan diplomasi Indonesia di arena politik internasional. 

"Jaksa Agung mengindikasikan eksekusi mati jilid empat akan dilaksanakan 2018. Padahal Indonesia baru saja menerima kunjungan Komisioner Tinggi HAM PBB pada Februari 2018, dan mengincar posisi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019-2020," katanya dalam siaran pers, Senin (5/3/18)

Menurut Ricky, lebih baik Kejagung mempercepat reformasi birokrasi di dalam tubuh kejaksaan daripada menyiapkan rencana eksekusi mati. Ia juga meminta Kejagung menyelesaikan segala perkara korupsi besar dan pelanggaran HAM masa lalu yang belum juga tuntas, apalagi Indonesia juga sedang gencar menyelamatkan ratusan buruh migran Indonesia yang terancam hukuman mati.

“Eksekusi mati justru akan mencoreng citra Indonesia di hadapan komunitas internasional,” ujarnya.

Salah satu alasan Kejagung memberlakukan hukuman mati adalah persoalan narkotika di Indonesia yang semakin parah. Ricky menyatakan LBH Masyarakat sangat mendukung upaya pemerintah Indonesia menangani persoalan narkotika, tetapi upaya tersebut harus sejalan dengan hak asasi manusia dan berbasis bukti ilmiah, selain itu hukuman mati dinilainnya tak akan memberikan efek jera.

"Maraknya peredaran gelap narkotika sekalipun Indonesia telah melakukan tiga kali eksekusi mati memperlihatkan bahwa eksekusi mati tidak memberikan efek jera, sebagaimana juga telah dibuktikan melalui banyak penelitian di banyak negara, tuturnya.

Sejak Prasetyo menjabat sebagai Jaksa Agung,  eksekusi mati sudah 3 kali dilaksanakan, yaitu pada 18 Januari 2015 terhadap enam terpidana mati. Kemudian, pada 29 April 2015 diberlakukan pada delapan terpidana mati, dan pada 29 Juli 2016 eksekusi mati dilakukan kepada Freddy Budiman, Humprey Jefferson, Seck Osmane dan Michael Titis. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar