Jakarta, Indonesia | Sunday, 08-12-2019

NEWS UPDATE

Akademisi Minta Perencana Pembunuhan Pejabat Negara Diungkap

AL | Rabu,29 Mei 2019 - 11:30:30 WIB

Akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Mikhael Bataona.foto.ist

Kupang, CityPost - Akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Mikhael Bataona meminta aparat penegak hukum segera mengusut tuntas siapa dalang kerusuhan 22 Mei dan perencana pembunuhan terhadap empat pejabat negara.

"Menurut saya, semua pihak yang menjadi dalang kerusuhan dan perencana pembunuhan terhadap para tokoh nasional harus diungkap, dan diumumkan kepada publik," kata Mikhael kepada wartawan di Kupang, Rabu (29/5).

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyebutkan nama empat tokoh nasional yang mendapat ancaman akan dibunuh oleh perusuh aksi kerusuhan 22 Mei 2019.

"Mereka (pelaku) menyampaikan nama, satu Pak Wiranto, kedua Pak Luhut Menko Maritim, ketiga Pak Ka-BIN (Kepala Badan Intelijen Negara), keempat Pak Gories Mere," ungkap Tito di kantor Kemenpolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Selasa (28/5) kemarin.

Tito mengatakan, informasi itu didapat langsung dari empat pelaku yang sudah ditangkap, mereka adalah HK, AZ, IR dan TJ.

Menurut Mikhael, dalang kerusuhan dan perencana pembunuhan pejabat negara harus dimintai pertanggungjawaban secara hukum.

"Jika dalang dari peristiwa ini tidak diungkap oleh Polri, maka akan menjadi preseden yang buruk untuk sistem bernegara kita ke depan," ujarnya.

Mikhael menilai, kerusuhan yang terjadi pada 22 Mei 2019, tidak bisa terlepas dari pernyataan-pernyataan dan ajakan para elit politik untuk tidak percaya pada lembaga-lembaga negara penyelenggara Pemilu. Padahal dalam negara demokratis, semua persoalan harusnya diselesaikan lewat jalur hukum.

"Kondisi ini kemudian memicu massa yang tidak lagi percaya kepada KPU dan Bawaslu mencoba memaksakan kehendak, dengan kekuatan massa. "Ini jelas berbahaya. Saya kira dengan adanya kerusuhan seperti kemarin, persepsi kepada peradaban bangsa kita sudah buruk. Indeks berdemokrasi kita sudah jauh menurun," pungkasnya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar