Jakarta, Indonesia | Tuesday, 07-04-2020

NEWS UPDATE

Mahasiswa UB Kembangkan Bakteri Penghambat Jamur Cabai

AL | Senin,19 Agus 2019 - 19:51:29 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Malang, CityPost - Tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) Malang, Jawa Timur, mengembangkan bakteri yang mampu menghambat pertumbuhan jamur pada cabai rawit.

Ketiga mahasiswa tersebut, adalah Cindy Diah Ayu Fitriana, Nava Karina, dan Achmad Roekhan. Pengembangan bakteri yang dilakukan ketiga mahasiswa itu di bawah bimbingan dosen Luqman Qurata Aini. Mereka melakukan pengembangan bakteri kitinolotik UB Forest yang memiliki kemampuan cepat dan tepat dalam menghambat perkembangbiakan jamur patogen Colletotrichum capsici penyebab antraknosa.

"Bakteri kitinolitik yang ada di UB Forest lebih aktif dibanding dari perairan, sehingga lebih aplikatif apabila diimplementasikan di bidang pertanian," Achmad kepada wartawan di Malang.

Achmad menjelaskan, umumnya bakteri kitinolitik itu ditemukan di perairan. Dari 78 bakteri yang ada di UB Forest, 76 diantaranya adalah bakteri kitinolitik. Pada 2018 lalu, cabai rawit menjadi komoditas hortikultura penyumbang inflasi sebesar 0.08 persen dari 3.2 persen inflasi nasional (Bank Indonesia, 2018). Inflasi ini disebabkan karena banyaknya cabai yang terkena serangan penyakit antraknosa (patek) oleh jamur patogen Colletotrichum capsici. Penyakit antraknosa pada cabai rawit mampu menurunkan produksi sebesar 50-90 persen per hektare. Pengendalian penyakit oleh petani dengan fungisida cenderung belum efektif dan menimbulkan dampak serius terhadap lingkungan dan kesehatan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Achmad dan dua rekannya, bakteri kitinolitik UB Forest memiliki kemampuan menghambat jamur Colletotrichum capsici penyebab antraknosa dengan persentase penghambatan hingga 100 persen. Keunggulan bakteri kitinolitik dalam mengatasi penyakit antraknosa lebih efektif dibandingkan fungisida, karena bakteri kitinolitik memiliki kemampuan yang cepat dalam melisis dinding sel patogen yang komponen utamanya berupa kitin sebesar 22-40 persen.

Oleh karena itu, pemanfaatan bakteri kitinolitik UB Forest sebagai mikroba antagonis yang berperan sebagai green technology berbasis agens hayati perlu dikembangkan. Kami berharap bakteri jamur ini dapat menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan antraknosa serta mendukung implementasi pertanian yang berkelanjutan," ujarnya. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar