Jakarta, Indonesia | Sunday, 08-12-2019

NEWS UPDATE

Empat Kawasan Sains Ditargetkan Masuk Level Utama

AL | Selasa,27 Agus 2019 - 15:16:50 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Denpasar, CityPost - Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan empat Kawasan Sains dan Teknologi (Science Techno Park/STP) di Indonesia masuk level utama dan satu ke tingkat internasional dalam lima tahun ke depan.

"Kawasan sains dan teknologi (KST) yang sekarang yang sudah ada, paling top di level madya. Kalau akan memilih untuk dijadikan yang utama, tentu yang paling siap, yang ada di perguruan tinggi maupun di lembaga pemerintah non-kementerian (LPNK)," kata Dirjen Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Patdono Suwignjo saat acara Seminar Internasional KST/STP dan Business Gathering, di Denpasar, Selasa (27/8)

Pembangunan STP atau KST di berbagai daerah merupakan salah satu program yang dikeluarkan pemerintah dalam menjawab tuntutan perkembangan inovasi sekaligus menjadi salah satu solusi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di daerah. KST didesain untuk menjembatani antara kebutuhan industri dan hasil riset yang berdasarkan pada potensi sumber daya alam dan manusia di setiap daerah.

Patdono menuturkan, sebelumnya pemerintah menargetkan akan membangun 100 KST/STP dalam periode lima tahun (2015-2019). Namun, etelah dilakukan evaluasi, Kemenristekdikti dan Bappenas menyadari bahwa target tersebut tidak realistis.
Patdono mengemukakan, berkaca dari pengalaman di sejumlah negara, untuk menjadi kawasan sains dan teknologi yang `mature` atau matang itu diperlukan waktu yang sangat lama. Di Korea Selatan sampai 35 tahun dan Swedia 28 tahun.

"Jika di Indonesia membuat 100 STP dalam lima tahun, jelas tidak realistis. Maka untuk lima tahun ke depan, kita perlu membuat target yang lebih realistis, yakni kami ingin empat yang utama, dan satu yang sudah internasional," ujarnya.

Kemenristekdikti mengakui membuat KST/STP bukan hal yang mudah. Patdono memaparkam, biaya yang dikeluarkan sangat besar karena membutuhkan infrastruktur yang banyak, sehingga kalau anggaran pemerintah terbatas, harus fokus berapa STP yang ditargetkan dan betul-betul STP yang sudah jadi. Salah satu kelemahannya adalah, STP di Indonesia belum ada yang memiliki `anchor industry atau kolaborasi industri jangkar yang besar seperti yang ada dalam STP di luar negeri. Sehingga kemampuan untuk mencetak pengusaha pemula berbasis teknologi atau startup itu belum begitu bagus, karena ada komponen utama yang tidak ada yaitu anchor industry.

"Salah satu ciri STP yang sukses seperti di luar negeri ada `anchor industry` yang beroperasi di dalam STP, kemudian akan menarik perusahaan-perusahaan lain yang tertarik dengan industri besar itu. Anchor industry akan membuat penelitian-penelitian, kemudian penelitiannya dibawa ke STP, di samping perguruan tinggi yang ada di sekitar STP juga membuat penelitian," jelasnya.

Plt Direktorat KST dan Lembaga Penunjang Lainnya Kemenristekdikti Kemal Prihatman selaku mengatakan, sejak tahun 2015-2019, pihaknya berupaya mengembangkan KST melalui fasilitasi pengembangan kelembagaan capacity building, penguatan hilirisasi hasil riset dan pengembangan inovasi serta pengembangan sarana dan prasarana

Fasilitasi tersebut diberikan kepada 18 lokus binaan KST Kemenristekdikti, yaitu: Pusaka Techno Park, STP Riau, STP Universitas Andalas, STP Sumatera Selatan, STP Kalimantan Utara, STP Papua Barat, Sumbawa Technopark, STP ITS, STP Jepara, Technopark Ganesha Sukowati Sragen, Solo Technopark, KST Universitas, UGM Science Techno Park, STP UI, STP IPB, Oil Palm Science Techno Park (OPSTP) Medan, ITB Innovation Park,dan Coffee and Cocoa Science Techno Park(CCSTP) Jember. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar