Jakarta, Indonesia | Tuesday, 10-12-2019

NEWS UPDATE

Karhutla Sumsel Jadi Perhatian Ratusan Hektar Terbakar

Hen | Jumat,08 Nov 2019 - 23:43:14 WIB

Ilustrasi Gambar/foto ist

Palembang, CityPost – Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sepertinya tidak pernah hilang dan pergi dari negeri Indonesia. Peristiwa ini kerap terjadi khususnya saat musim kemarau panjang datang. Namun, yang banyak menjadi pertanyaan publik apakah peristiwa ini terjadi alami atau ada aktor intelektual dibelakangnya yang ingin jalur cepat untuk membuka lahan.

Peristiwa Karhutla terbaru yang kini menjadi perhatian terjadi diwilayah Sumatera Selatan, dimana hingga kini ada seluas 361.857 hektar lahan yang terbakar. Bahkan ironisnya peristiwa itu terjadi disaat musim penghujan mulai mengguyur dan membahasi provinsi tersebut.

Titik api kembali membara di Sumatera Selatan sejak Jumat (8/11) lalu. Melansir data pantauan Lapan ada sebanyak 394 titik api yang mulai membara sejak Kamis (7/11) siang. Dari 140 titik api memiliki tingkat kepercayaan diatas 80 persen, 234 titik dengan tingkat kepercayaan 30-80 persen, sementara 20 lainnya dibawah 30 persen.

Lapan menjelaskan bahwa jumlah tersebut meningkat signifikan mengacu pada masuknya laporan jumlah titik api pada Kamis (7/11) dengan 57 titik, sebanyak 25 titik api membara pada Rabu (6/11) dan 39 titik api terjadi pada Selasa (5/11).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Iriansyah mengatakan, wilayah yang terbesar luasan lahan terbakarnya yakni di Ogan Komering Ilir (OKI) dengan lahan yang terbakar 209.974 hektar, lalu Banyuasin 59.425 hektar dan 43.815 hektar di Musi Banyuasin.

“Kebakaran lahan di Sumsel 99 persen disebabkan oleh ulah manusia, baik disengaja atau lalai. Faktor alam, kondisi cuaca yang sangat panas hanya memberi sumbangsih sekitar 1 persen,” ungkap Iriansyah.

Iriansyah mengatakan dari 361.857 hektar lahan yang terbakar, sebanyak 220.483 hektar berada dikawasan gambut. Sementara itu, 131.374 hektar lainnya ada dikawasan nongambut. Lalu 176.148 dikawasan hutan dan 185.741 hektar dikawasan non hutan.

Menurutnya, kebakaran lahan dan hutan ini telah merusak tatanan ekologis yang berdampak buruk pada lingkungan. Asap yang ditimbulkan juga membuat kondisi udara di Palembang dalam satu bulan terakhir berada dikisaran sedang hingga berbahaya yang mengakibatkan meningkatnya jumlah penderita ISPA, khususnya pada periode Agustus sampai September 2019.

“Karhutla tahun ini memang tidak sebesar pada 2015 lalu, berdasarkan jumlah titik api dan jumlah kebakarannya, masih tidak separah itu. Tapi dampaknya sangat buruk. Kedepan, upaya pencegahan kebakaran harus didorong. Masyarakat rawan terbakar harus didukung mengedepankan kemandirian perekonomian dengan meningkatkan sektor perikanan dan peternakan, mengurangi aksi pembakaran hutan,” tegas Iriansyah.

Untuk penanganan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) itu sendiri, Kabid Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel Ansori mengatakan, saat ini pihaknya masih terus melakukan berbagai macam upaya pemadaman baik melalui udara ataupun darat dengan menggunakan bom air dan helikopter setoiap harinya.

“Status tanggap darurat masih berlaku hingga 10 November. Nanti akan dievaluasi pada akhir status tanggap darurat ini,” ujarnya. (Hen/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar