Jakarta, Indonesia | Friday, 14-08-2020

NEWS UPDATE

Transformasi Digital Jadi Solusi Selamatkan UKM Dari Pandemi

Agus | Selasa,30 Jun 2020 - 15:37:26 WIB

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki/foto Agus citypost

Jakarta, CityPost – Wabah virus corona yang kini sudah dikategorikan sebagai Pandemi Covid-19 oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) tengah memicu dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat dan anjloknya perekonomian negara-negara diseluruh dunia. Sama halnya dengan Indonesia yang juga terdampak dan tengah mencari solusi penyelamatan.

Pemerintah Indonesia sendiri dalam menyikapi krisis menilai, sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan sektor yang paling terdampak dari Pandemi Covid-19. Banyak unit-unit tersebut yang kehilangan pendapatan dan tidak lagi bisa membayar angsuran pinjaman pembiayaan hingga ada yang gulung tikar.

Melihat permasalahan itu, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki memandang, kendati ada yang terdampak namun ada juga yang bertahan dan memanfaatkan peluang untuk tumbuh. Salah satunya mereka yang masuk dalam basis marketplace online melalui sistem digital. Apalagi dengan adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dari pemerintah yang mau tidak mau masyarakat akhirnya berbelanja melalui sarana online.

Sayangnya, kata Teten, UMKM yang bisa dan sudah terhubung dengan sarana pasar online masih terbilang kecil. Jumlahnya hanya mencapai 13 persen atau sekitar 8 juta pelaku UMKM sedangkan 87 persen lainnya masin bermain dipasar konvensional alias offline.

“Data penjualan eCommerce di Bank Indonesia, bulan lalu meningkat 18 persen. Bahkan Katadata mencatat lebih besar lagi. Hampir 2 kali lipatnya. Kenapa bisa meningkat, karena ada kebijakan sosial distancing, PSBB, WFH. Orang akhirnya belanja lewat online. Sayangnya baru 13 persen, masih sedikit atau sekitar 8 juta; 87 persennya masih offline,” jelas Teten Masduki saat berbicara dalam dialog bertema Resep UMKM Kuliner Bangkit Bersama GoFood melalui Webinar di Jakarta pada Senin (29/6) lalu.

Melihat potensi pasar online itulah akhirnya pihak Kementerian Koperasi dan UKM mendorong percepatan transformasi digital bagi pelaku UMKM. Teten menilai untuk tetap bertahan, UMKM harus beradaptasi bisnis dengan membuat inovasi produk agar tetap bisa mengikuti permintaan pasar.

“Banyak yang banting setir dengan kebutuhan makan minuman, kebutuhan pokok, termasuk kebutuhan pribadi, minuman herbal, alat kesehatan termasuk keperluan dirumah. Ini yang bisa bertahan. Kemenkop UKM sejak awal membantu adaptasi bisnis,” ujarnya.

Teten menilai kedepannya perilaku konsumen akan mementingkan barang konsumsi, terutama makanan dan minuman yang bersih dari Covid-19. Sehingga kemasan dan pengolahan higienis menjadi sangat penting.

“Kedepan kita hadapi kebiasaan baru dari perilaku konsumen, yang lebih mementingkan barang konsumsi yang bersih dari Covid-19. Ini terkait kemasan, dan pengolahan secara higienis. Belanja online menjadi tren, standar meningkat,”katanya.

Teten mengatakan untuk mendorong agar para pelaku UMKM bisa memperluas akse market, perlu adanya digitalisasi yang bisa mendorong bisnis menjadi lebih efisien dan akses pembiayaan menjadi lebih mudah. Khususnya pada GoFood yang diharapkan bisa membangun rumah produksi agar UMKM bisa bersaing dengan pebisnis besar. Dia juga akan mendorong diadakannya pelatihan-pelatihan dan kerjasama dengan market online tersebut.

“Kedepan, rekam digital akan menjadi pertimbangan untuk mengajukan pembiayaan. Seperti GoFood, yang bermitra dengan UMKM, dengan cash flow yang jelas. Data inilah yang akan memudahkan bank untuk mempertimbangkan dan memberikan pembiayaan. Kemenkop UKM sudah lama punya ide untuk mendirikan rumah produksi bersama,” ucapnya.

Untuk memulai itu semua, kata Teten UMKM harus bisa memanfaatkan eCommerce dan GoFood bisa memulai dengan membangun dapur bersama yang bisa membantu para UMKM sebagai mitranya agar biaya produksi mereka lebih ringan.

“Kenapa hal ini penting, karena UMKM dalam negeri harus bisa bersaing dengan memanfaatkan eCommerce. GoFood bisa memulai dengan membangun dapur bersama, yang dapat membantu mitranya, yaitu pelaku UMKM agar lebih meringankan biaya produksinya,” ucap mantan peneliti ICW. (Agus)


Komentar Via Website : 3
01 Jul 2020 - 08:24:27 WIB
30 Jun 2020 - 20:51:12 WIB
30 Jun 2020 - 19:34:11 WIB
AwalKembali 1 LanjutAkhir

Nama

Email

Komentar