Jakarta, Indonesia | Friday, 14-08-2020

NEWS UPDATE

Pelaku UMKM Akui Manfaat Program PEN Ditengah Wabah Corona

Agus | Senin,06 Jul 2020 - 21:56:00 WIB

Sejumlah pelaku UKM memberikan apresiasi atas program PEN yang menyelamatkan usaha mereka/foto Agus citypost

Jakarta, CityPost – Wabah virus corona yang kini sudah dinyatakan sebagai Pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) tengah membuat dampak negatif terhadap perekonomian dunia. Bahkan banyak para pelaku usaha kecil yang tidak bisa bertahan ditengah merebaknya wabah yang mematikan tersebut.

Dampak anjloknya ekonomi karena Pandemi Covid-19 ini sangat dirasakan oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia. Namun, berkat kesigapan dan respon program pemerintah, banyak para pelaku UMKM di Indonesia yang bisa diselamatkan dari kejatuhan ekonomi melalui Program Ekonomi Nasional (PEN-red).

Salah satunya seperti yang diungkapkan oleh salah seorang pelaku usaha kecil, Zaenab. Dia mengatakan usahanya bisa tertolong berkat adanya kebijakan PEN dari pemerintah hingga meringankan beban cicilan yang menjadi kewajibannya selama ini.

“Pendapatan warung kelontong milik saya drop hingga 90%. Untuknya, ada kebijakan dari pemerintah, yakitu program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) khususnya untuk pelaku KUMKM, yang amat meringankan beban subsidi bunga cicilan,” terang Zaenab pelaku usaha penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI dihadapan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof. Rully Indrawan dan Direktur Mikro Bank BRI Supari di Pusat Informasi Pemulihan Ekonomi Koperasi dan UMKM, di Kantor Kementerian Koperasi dan UKM pada Senin (6/7) hari ini.

Zaenab mengatakan, cicilan KUR yang diperolehnya pada 31 Juli 2019 sebesar Rp 2,485 juta perbulan, kemudian mendapatkan penundaan angsuran selama enam bulan kedepan.

“Saya juga mendapat subsidi tambahan sebesar Rp 2,1 juta. Jadi, angsuran perbulan yang harus saya bayar hanya Rp 300 ribuan saja,” ujarnya.

Senada dengan Zaenab, Pedagang kelontong di pasar tradisional, Achyadi mengatakan hasil penjualan dan pendapatan yang diterimanya selama masa Pandemi Covid-19 ini menurun drastis dan nyaris membuatnya gulung tikar. Terlebih lagi, dia memiliki cicilan angsuran KUR dari BRI sebesar Rp 50 juta.

Setelah melalui program PEN, Achyadi mengaku sangat tertolong pasalnya dia hanya membayar cicilan angsuran pokok sebesar Rp 134 ribu perbulannya.

Pelaku usaha kecil lainnya yang mengakui manfaat dari PEN adalah Trisnowati. Pedagang alat-alat memasak ini sebelumnya terdampak dan sama sekali kehilangan proses penjualan atau demo-demo masak yang bisa menjadi sarana pemasaran alat-alat masaknya. Dia juga mengaku terbebani karena memiliki cicilan KUR sebesar Rp 500 juta dengan cicilan perbulannya mencapai Rp 13 jutaan.

“Alhamdulillah, dengan kebijakan PEN dari pemerintah, saya mendapat penangguhan untuk pembayaran angsuran pokok,” ungkap Trisnowati.

Trisnowati mengatakan bahwa dengan adanya PEN, dia yang semula mengangsur Rp 1,68 juta perbulan kini hanya membayar angsuran Rp 300 ribu perbulan karena ada tambahan subsidi bunga dari pemerintah.

“Alhamdulillah, dari uang yang ada, yang harusnya untuk membayar cicilan KUR, bisa saya putar kembali untuk usaha. Kini, saya beralih kepenjualan online. Meski belum sebagus waktu saat normal, namun penjualan secara online yang saya lakukan, mulai terlihat hasilnya,” jelas Trisnowati.

Menanggapi berbagai macam dampak dan permasalahan yang dihadapi para pelaku usaha kecil usai wabah corona merebak, Direktur Bisnis Mikro Bank BRI Supari mengatakan bahwa pihaknya selama pandemi Covid-19 telah melakukan tiga langkah strategis, yakni melakukan penyelamatan pelaku UMKM, implementasi program PEN dan tetap menyalurkan kredit UMKM selama pandemi Covid-19.

“Selama lima bulan pandemi ini, Bank BRI sudah menyalurkan KUR sebesar Rp 56 triliun, dari target sebesar Rp 120 triliun. Kami optimis, KUR akan tersalurkan seluruhnya hingga akhir tahun,” kata Supari.

Supari menilai, saat aktivitas ekonomi masyarakat sudah kembali menggeliat, UMKM harus ditopang dengan permodalan baru oleh karenanya dia akan mengimplementasikan semua kebijakan PEN. Juga terkait dengan skema penjaminan yang nantinya diperuntukkan sebagai akselerasi recoveri usaha milik UMKM.

“Kita akan mengimplementasikan seluruh kebijakan PEN. Salah satunya, subsidi bunga untuk memperpanjang nafas usaha UMKM. Bank BRI akan terus mendampingi dan memberdayakan UMKM. Bahkan, ketika nasabah melakukan perubahan usaha dari offline ke online dengan tujuan efisiensi,” ujar Supari.

Supari mengatakan sejak Mei hingga Juni 2020 pihaknya sudah menyelamatkan sebanyak 2,7 juta UMKM dengan nilai kredit sebesar Rp 110 triliun. Untuk kedepannya BRI akan lebih cepat lagi dalam proses akselerasi implementasi kebijakan PEN.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof. Rully Indrawan menjelaskan bahwa hingga saat ini baru ada empat bank yang telah mengajukan klaim atas dana talangan dalam program PEN untuk sektor UMKM. Keempat bank itu adalah BRI, BNI, Mandiri dan BPD Kaltimtara.

“Sebagai kuasa pengguna anggaran (KPA) kami terus mendorong agar bank-bank penyalur KUR agar segera melakukan klaim kepemerintah,” tegas Rully.

Rully menjelaskan bahwa jika tidak ada yang mengklaim maka nantinya akan terjadi keterlambatan pembayaran pemerintah atas biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank penyalut.

“Sementara Presiden Joko Widodo secara tegas meminta agar Kementerian dan Lembaga (K/L) mempercepat realisasi dan pencairan dana PEN khusus KUMKM yang dipatok sebesar Rp 123,46 triliun,” pungkas Rully. (Agus)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar