Jakarta, Indonesia | Friday, 14-08-2020

NEWS UPDATE

DPRD DKI Kritisi Mendikbud Terkait Belajar Online Permanen

Hen | Selasa,07 Jul 2020 - 19:37:21 WIB

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kiri) dan Anggota DPRD DKI Jakarta Tina Toon (kanan)/foto ist

Jakarta, CityPost – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim kembali menjadi sorotan publik terkait rencananya bakal menetapkan belajar online secara permanen. Kecaman dan kritikan lantas berdatangan bahkan dari pihak DPRD DKI Jakarta menanggapi rencana yang banyak dikeluhkan masyarakat.

Anggota DPRD DKI Jakarta, Tina Toon mengaku geram mendengar rencana Nadiem yang akan permanenkan belajar online. Alhasil, Tina balik mempertanyakan kepada Nadiem apakah dia mau membayarkan tagihan kuota internet semua masyarakat jika kebijakannya diterapkan.

“Terus Smartphone dan Gadget dan Kuota Internetnya semua dibayarin Mas Menteri??? Kan enggak semua masyarakat orang kaya???? Kan enggak semua masyarakat melek Teknologi seperti dikota besar, yang dipelosok-pelosok gimana?” tulis Tina Toon mengkritisi melalui unggahan instagram storiesnya.

Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait PPDB Zonasi untuk siswa didik baru juga tak luput dari kritikan Tina Toon.

“Ini salah satu dari banyak laporan dari wilayah soal PPDB. Yang berprestasi tidak mendapatkan perlakuan yang fair. Yang penghasilannya kurang tidak mendapatkan Sekolah negeri harus bayar Sekolah swasta. Zona umur diprioritaskan. Mulai hari ini ada seleksi dari Bina RW, dicoba ya untuk para murid dan orangtua!!!Semangat!!! Kita Kawan Bersama.” Tegasnya.

Tina mengatakan saat ini banyak anak yang stress dan kasihan terkait kebijakan PPDB zonasi batasan usia tersebut. Untuk itu, dia berharap para pembuat kebijakan memikirkan dengan matang sebelum aturan diterapkan dan disahkan. Apakah kebijakan itu efektif untuk semua masyarakat atau hanya sebagian saja.

“Kebijakan pasti ada pro kontra, tetapi dalam memutuskan kebijakan harus dipikirkan plus minusnya untuk masyarakat luas se Indonesia, bukan sebagian-sebagian saja. Ada memang efek dari Covid-19 jadi sekolah #DiRumahAja. Tetapi, harus dievaluasi dilapangan. Banyak yang enggak punya gadget dan kuota akhirnya ya sudah saja enggak sekolah. Nah, untuk jangka panjang, belum siap karena faktor ekonomi dan faktor teknologi yang belum menyeluruh dan lain-lainnya,” pungkas Tina.

Diketahui sebelumnya, dalam rapat bersama Komisi X DPR RI pada Kamis (2/7) lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan kegiatan belajar jarak jauh tetap terus dilaksanakan. Metode ini juga nantinya akan ditetapkan secara permanen. Apabila situasi pandemi belum juga mereda.

Nadiem menilai pemanfaatan teknologi menjadi hal utama dan bisa menjadi ajang sekolah dalam melakukan sejumlah metode dalam kegiatan belajar mengajar melalui aplikasi perangkat lunak.

“Memberi kesempatan pada guru-guru, kepala sekolah dan murid-murid untuk melakukan berbagai macam hybrid model atau school learning management system. Potensinya sangat besar,” ungkap Nadiem. (Pus/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar