Jakarta, Indonesia | Sunday, 22-09-2019

NEWS UPDATE

Kanada dan Bappenas RI Luncurkan Program BERANI

AL | Senin,10 Des 2018 - 20:19:18 WIB

ilustrasi gambar.foto.ist

Jakarta, CityPost - Pemerintah Kanada dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI meluncurkan program Better Reproductive Health and Rights for All in Indonesia (BERANI) untuk meningkatkan kesehatan reproduksi dan hak-hak perempuan serta kaum muda di Indonesia. Program ini akan meningkatkan kualitas bidan sehingga menurunkan angka kematian ibu, sementara kaum muda akan memiliki akses yang lebih besar terhadap informasi dan layanan kesehatan reproduksi melalui pendidikan kesehatan reproduksi remaja serta layanan kesehatan yang ramah remaja. Program BERANI juga bertujuan untuk mengubah sikap seputar praktik perkawinan anak dan kekerasan berbasis gender, melalui peningkatan fokus pada advokasi, pengumpulan bukti, pengembangan kapasitas, dan kemitraan.

"Program BERANI sangat strategis karena membahas agenda yang belum selesai dalam kerangka pembangunan negara dan memiliki hubungan yang jelas dengan kesenjangan SDGs, saat ini yang ditangani oleh negara," kata Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan Bappenas Subandi Sardjoko dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (10/12/18).

Menurut Subandi, program ini sejalan dengan program nasional yang ada dan Bappenas berharap dapat memfasilitasi strategi yang tepat untuk keberlanjutan program. Berinvestasi pada perempuan dan anak perempuan merupakan strategi penting untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di Indonesia, kerena perempuan dan anak perempuan merupakan setengah dari populasi di negara ini tetapi sering tidak menerima informasi dan layanan yang mereka butuhkan untuk berkembang.

Misalnya, satu dari sembilan anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun di Indonesia dan kemudian sering meninggalkan pendidikan yang belum selesai untuk melanjutkan kehidupan pernikahan, menciptakan siklus kemiskinan yang berlanjut ke kehidupan anak-anak mereka. Menghilangkan perkawinan anak akan membantu anak perempuan menyelesaikan pendidikan, mendapatkan pekerjaan, berkontribusi terhadap ekonomi, dan dapat meningkatkan PDB lebih dari 1,7 persen.

Pemerintah Kanada bermitra dengan Dana Populasi PBB (UNFPA) dan Dana Anak PBB (UNICEF) untuk menangani masalah kesehatan reproduksi dan perkawinan anak meluncurkan Kebijakan Bantuan Internasional Feminis yang mengidentifikasi kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan anak perempuan sebagai dasar bantuannya. Pemerintah Kanada juga mengakui ini adalah cara terbaik untuk mengurangi kemiskinan.

Sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dan anak perempuan, pemerintah Kanada berkomitmen berinvestasi sebanyak USD 650 juta secara global selama tiga tahun untuk meningkatkan kesehatan serta hak seksual dan reproduksi untuk semua.

Kebijakan baru pemerintah Kanada sesuai dengan mandat UNFPA dan UNICEF di Indonesia dalam upaya kolektif untuk mencapai Agenda 2030, terutama Tujuan 5 tentang Kesetaraan Gender dan Tujuan 3 tentang Kesehatan dan Kesejahteraan.

"Fokus Program BERANI adalah untuk menangani hak dalam mengakses perawatan kesehatan reproduksi berkualitas bagi semua, terutama perempuan dan anak perempuan yang terpinggirkan dan kurang beruntung," kata Perwakilan UNFPA di Indonesia, Annette Sachs Robertson.

Program BERANI bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anak perempuan dengan memberdayakan mereka untuk tetap bersekolah, membuat keputusan yang sehat, dan berkembang.

Menurut Perwakilan UNICEF di Indonesia Debora Comini, memprioritaskan pendidikan anak perempuan adalah strategi yang kuat untuk mengakhiri perkawinan anak dan memastikan bahwa anak perempuan dapat memenuhi potensi mereka.

Pelaksanaan program BERANi akan melibatkan sejumlah instansi terkait seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Asosiasi Bidan Indonesia, Yayasan Siklus Sehat Indonesia serta sejumlah organisasi keagamaan. (red/ist)


Komentar Via Website : 0

Nama

Email

Komentar